Better be free bird than a captive king

Sunday, August 22, 2010

BAB II KONFLIK BATIN SEORANG PENULIS BAYANGAN

Posted by ADE NUGRAHA on 12:57 PM 0 comments

BAB II
Tinjauan Pustaka

Dalam melakukan suatu proses penelitian diperlukan kerangka teori yang dapat dipergunakan sebagai acuan. Pada bab ini, penulis akan menyampaikan beberapa teori dan kritik sastra yang berhubungan dengan pembahasan konflik batin tokoh utama dalam novel The Ghost karya Robert Harris.

2.1 Tokoh
Teori pertama yang dipergunakan adalah berkaitan dengan judul yang dipilih, yaitu teori tentang tokoh dan hubungannya dengan tokoh.
Dalam setiap cerita, tokoh menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca.
Sehubungan dengan tokoh, Suwardi Endraswara dalam bukunya Metode Penelitian Psikologi Sastra menyatakan bahwa tokoh adalah figur yang dikenal dan sekaligus mengenai tindakan psikologis. Dia adalah “Eksekutor” dalam sastra. Tokoh juga merupakan jutaan rasa karena aspek psikologis ini tak terbatas.
Burhan Nurgiantoro, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi, mengungkapkan (yang merangkum pendapat beberapa tokoh diantaranya menurut Stanton), bahwa tokoh cerita (chraracter) adalah tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan, dan sebagai sikap, ketertarikan, keinginan, emosi dan prinsip moral yang dimiliki oleh tokoh-tokoh tersebut. Sedangkan tokoh cerita (character) menurut Abrams adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan alam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.
Panuti Sudjiman dalam bukunya Memahami Cerita Rekaan menyebutkan bahwa tokoh adalah merupakan individu rekaan yang mengalami atau berkelakuan di dalam berbagai peristiwa cerita. Tokoh adalah suatu unsur novel yang sangat penting dan menarik untuk dianalisa. Tokoh utama adalah pelaku dari serangkaian peristiwa atau kejadian dalam cerita.
Selain tokoh, pengarang juga menggambarkan watak atau karakter tokoh-tokohnya untuk mendukung terjalinnya suatu cerita. Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang.
Perrine menyatakan tokoh sebagai pelaku dalam sebuah cerita dapat disajikan melalui dua cara yaitu penyajian secara langsung (direct presentation) dan penyajian secara tidak langsung (indirect presentation). Penyajian secara langsung dilakukan pengarang dengan menceritakan secara langsung melalui penjelasan baik fisik, watak, maupun kejiwaan. Sedangkan penyajian secara tidak langsung dapat dilakukan melalui apa yang dilakukan, dipikirkan dan diucapkan oleh tokoh:

“An author may present his character either directly or indirectly. Direct presentation, he tells us straight out, by exposition or analysis, what character is telling us where he is like. In direct presentation the author shows us the character in action; we infer what he is like from what he thinks or says or does.”

Pemakaian kedua metode penyajian itu dimaksudkan untuk melengkapi dan memperkuat satu sama lain. Metode langsung memiliki keuntungan yaitu kejelasan dan sangat ekonomis, tetapi tidak ditampilkan secara utuh bila tidak dilengkapi oleh metode tak langsung.
Membaca sebuah novel biasanya kita akan dihadapkan pada sejumlah tokoh yang dihadirkan di dalamnya. Namun dalam kaitannya dengan keseluruhan cerita , peranan tokoh itu masing-masing tidak sama. Dilihat dari segi peranan atau tingkat kepentingannya, ada tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita seperti tokoh utama cerita.
Sesuai dengan judul, yang dipusatkan pada kajian tokoh utama, maka pengertian tokoh utama menurut Burhan Nurgiantoro dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenal kejadiannya.
Menurut Suwardi Endraswara, dalam bukunya Metode Penelitian Psikologi Sastra, bahwa tokoh termaksud yang secara psikologis menjadi wakil sastrawan. Sastrawan kadang-kadang menyelinap pesan lewat tokoh. Kemarahan sastrawan sering kali juga dimunculkan dalam tokoh.
Seorang tokoh dapat digambarkan melalui tiga dimensi tokoh, yaitu: fisiologi, sosiologi dan psikologi. Boen Oemarjati yang dikutip oleh Frans Mido dalam bukunya Cerita Rekaan dan seluk-beluknya menuturkan :

1. Dimensi Fisiologis adalah ciri-ciri fisik tokoh, jenis kelamin, umur, ciri-ciri tubuh, raut muka dan sebagainya. Selain itu termasuk juga perlengkapan yang dikenakan tokoh.
2. Dimensi Sosiologis adalah status sosial, pendidikan, kehidupan pribadi dan keluarga, pandangan hidup, agama dan kepercayaan, ideologi, aktifitas sosial, organisasi kegemaran, keturunan, suku, bangsa dan lain-lain.
3. Dimensi psikologis adalah mentalitas, norma-norma moral dan pakaian, temperamen, perasaan-perasaan dan keinginan pribadi, sikap dan watak, kecerdasan, IQ, keahlian, kecakapan khusus, dan lain-lain.


Setelah memahami pengertian tokoh utama, maka unsur intrinsik yang lain adalah penokohan. Menurut Bernard Coohen dalam Writing about Literature menuturkan penokohan sebenarnya ditujukan untuk menggambarkan ciri dan kepribadian tokoh, sehingga pembaca dapat mengenal dan menganalisis tokoh tersebut.

Characterization is the means whereby an author establishes the illusion that the person, created by his words are indeed people or like people, with traits and personalities which a reader can recognize and analyze.

Seperti yang dikatakan Jones dalam buku Teori Pengkajian Fiksi bahwa penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Tokoh sebagai individu adalah gambaran manusia dalam alam kenyataan, pasti berinteraksi dengan lingkungannya, seperti yang dituturkan Edgar V. Robert dalam buku Thinking and Writing about Literature:

Character in literature is an author’s representation of a human being specifically of those inner qualities that determine how an individual reacts to various conditions or attempts to shape his or her environment.


2.2 Latar
Untuk menganalis tokoh utama selain unsur tokoh, unsur yang mendukung cerita juga diperlukan. Unsur tersebut adalah latar. Latar secara umum adalah bahasan mengenai waktu dan tempat, serta suasana yang melatarbelakangi suatu peristiwa dalam cerita.
Partini Sarjono dalam Literature Terms of The Novel mengungkapkan bahwa latar adalah penunjang terbentuknya karakter tokoh dalam novel. Latar juga berhubungan dengan tempat tokoh-tokoh dalam novel. Latar juga berhubugan dengan tempat tokoh-tokoh itu hidup. Hal ini menimbulkan pengaruh besar terhadap kepribadian, tingkah laku dan berpikir tokoh, seperti kutipan dibawah ini:

The setting of the novel is the background against which the character live out their lives. The setting can be concerned with the place in which they have a great effect upon the personalities, action and way of thinking of the character.

2.3 First Person Point of View
Dalam sudut pandang teknik ini, si “Aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifa batiniah, dalam diri sendiri. Si “Aku” menjadi fokus, pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang berada di luar si “Aku”, peristiwa, tindakan dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, atau dipandang genting.
First person point of view atau sudut pandang persona pertama dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan peran dan kedudukan si “Aku” dalam cerita. “Aku” mungkin menduduki peran pertama, jadi tokoh utama protagonist, mungkin hanya menduduki peran tambahan protagonist, atau berlaku sebagai saksi.


2.4 Simbol
Simbol adalah sesuatu yang lebih dari apa yang dimaksud, seperti yang diungkapkan dalam kutipan yang diambil dari buku Laurence Perrine yang berjudul Story and Structure di bawah ini:

Literary symbol is something which means more than what it is. It is an object, a person, a situation, an action or some other item, which has a literal meaning in the story but suggests or represent other meaning as well.

2.5 Ironi
Sedangkan ironi menurut Laurence Perrine adalah suatu keadaan yang memperlihatkan perbedaan. Ironi terbagi menjadi tiga, yaitu:

1. Verbal Irony adalah majas yang menunjukan bahwa apa yang dikatakan tidak sama dengan yang dimaksud. Perbedaannya terletak dari apa yang dikatakan dengan apa yang dimaksud.
2. Dramatic Irony adalah perbedaan terjadi antara apa yang dikatakan dan dipikirkan sitokoh dan apa yang diketahui oleh pembaca.
3. Irony of situation adalah perbedaan terjadi karena penampilan bertentangan dengan kenyataan, harapan berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.


2.6 Konflik
Dalam sebuah cerita, seorang tokoh pasti mengalami konflik-konflik yang dapat menghidupkan cerita. Seorang tokoh juga dapat berubah kepribadiannya dengan mengalami konflik.
Konflik adalah percekcokan, perselisihan atau pertentangan. Dalam sastra diartikan bahwa konflik merupakan ketegangan atau pertentangan di dalam cerita rekaan atau drama yakni pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya.
Konflik adalah pertentangan, perselisihan antar lakuan, gangguan, nafsu dan kehendak. Konflik dapat terjadi antara man against man, yaitu tokoh dengan tokoh lain, man against environment, yaitu tokoh dengan lingkungan yang berwujud fisik, alam, maupun sosial. Man against himself, terjadi dalam dirinya atau bisa dikatakan sebagai dilema.
Hal ini dijelaskan juga oleh Frans Mido dalam bukunya Cerita Rekaan dan Seluk Beluknya:

Ditinjau dari jenisnya, dapat dibedakan konflik batiniah, dan konflik lahiriah/fisik. Kalau ditinjau pelaku-pelaku atau pihak-pihak yang terlibat, maka konflik itu dapat terjadi antar tokoh/pelaku dengan dirinya sendiri, sesama manusia, masyarakat, lingkungan dan alam.

2.8 Kritik terhadap novel dan pengarang
Penerbitan novel The ghost ini mendapat tanggapan dari orang-orang yang telah membaca novelnya. Seorang pembaca, Rod Rilley, menyatakan dengan pujian bahwa Robert Harris adalah benar-benar seorang hantu, menyampaikan cerita dengan penuh semangat dan detail:

The real ghost, then, is Robert Harris. And what a jubilantly spiteful ghost he has proved to be. Blair is skewered, with magnificent rudeness, on page after page. Harris handles it all with some élan and subtlety, if you are a fan of the genre. The bleak, damp, winter woods of Massachusetts are beautifully evoked; this is, in more ways than one, a cold book, but none the worse for that.


Seorang wartawan The Washington Post, Patrick Anderson, mengatakan bahwa novel Robert Harris sangat menghibur sebagai potret kemarahan pada keadaan politik yang terjadi: Harris has managed to write a superior entertainment that is also an angry portrait of today’s political reality.
Demikianlah kritik terhadap pengarang bahwa novel tersebut menjadi perhatian publik. Isi dari novel The Ghost tersebut patut untuk dibaca dan dikritik. Novel ini memiliki alur cerita menarik yang berbau politik berdasarkan kisah nyata pengarangnya sendiri.


0 Responses so far:

Leave a Reply