بسم الله الرحمن الرحيم

以真主的名义,最仁慈,最仁慈 ; सबसे करीम, सबसे रहीम उस अल्लाह के नाम पर ; アッラーの名において、最も優雅で、最も慈悲深い ; 알라의 이름으로, 가장 자비 롭고, 가장 자비 롭다.

Sepenggal Cerita Inah

Posted by Ade Nugraha on 26 August 0 comments


Inah berjalan menapaki jalan setapak dalam hutan yang lebat itu. Sambil tergopoh-gopoh Inah berusaha untuk terus melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai gelap. ter bayang dalam ingatan Inah wajah suaminya yang menyambut kedatangannya tahun lalu. Keceriaan dalam kerinduan yang terpendam sejak sekian lama. Namun apa yang dialami Inah saat ini sungguh memilukan hati Inah. Dompet dan tas Inah telah dirampok oleh sekelompok preman dekat terminal bus.
Sudah setengah hari Inah berjalan. Walau pun Inah mengenal tempat ini, akan tetapi perjalanan yang panjang harus Inah lalui hingga tiba di rumah. Air matanya tak terasa jatuh. Tiupan angin dingin menerpa tubuhnya. Bukan hanya dirampok akan tetapi Inah juga telah dinodai oleh kelompok preman itu. Desiran suara daun tak terasa indah, suara daun yang diterpa angin semakin menyayat batin Inah. Dingin dalam hutan itu sedingan jiwanya kini.
Hari yang kelam, tak terbayangkan suasana indah bertemu dengan suaminya berbalik dengan suasana yang penuh dengan derita dan nestapa. Setiba dirumah Inah mengetuk pintu dengan sisa tenaganya. Seketika itu pula Inah jatuh pingsan.
Mata Inah sedikit terbuka. Suara yang memanggil namanya sedikit demi sedikit terdengar jelas ditelinganya. Suara itu berasal dari suaminya, menepuk-nepuk pundaknya sambil menyodorkan segelas teh hangat.
"minum dulu teh hangat ini" suaminya berkata
Ia belum bisa berkata apa-apa walau suaminya sedikit melontarkan pertanyaan tentang apa yang terjadi. Inah hanya terdiam. Menikmati sisa tenaganya.
Inah tersenyum ketika suaminya melangkah ke depan rumah karena pada akhirnya ia bisa bertemu dengan suaminya. Ia berangsut dari perbaringannya dan duduk di dekat meja. Suasana rumah ini seperti istana bagi Inah. Tumpukan kayu bakar tertata rapi seperti dulu, hangat tungku api sehangat pelukan suaminya. Di dapur itu Inah mengenang masa lalu berdua dengan suaminya.  Ia mengingat kembali ketika suaminya menggendong dari dapur hingga menuju kamar mereka. Ingatan manis itu masih terukir jelas. Suara daun, desiran angin terdengar indah dalam dapur itu.
Setelah meneguk kembali teh hangat yang berada di tangannya, inah beranjak berdiri dengan sisa kekuatannya. Lalu, ia bergerak pelan ke belakang rumah lewat pintu depan. Suami Inah sedang mencangkul di sawah di depan rumah inah. Inah hanya tersenyum, lalu melanjutkan tujuannya ke belakang rumah. Desiran angin memberikan tenaga untuk untuk Inah, gemericik air di sawah menyejukkan hati Inah. Batinnya tenang setenang gerakan daun yang melambai. Di belakang rumah reod itu Ia lalu duduk berjongkok di depan makam suaminya tercinta. Hatinya tenang. Inah tersenyum.

Penulis : Ade Nugraha