بسم الله الرحمن الرحيم

以真主的名义,最仁慈,最仁慈 ; सबसे करीम, सबसे रहीम उस अल्लाह के नाम पर ; アッラーの名において、最も優雅で、最も慈悲深い ; 알라의 이름으로, 가장 자비 롭고, 가장 자비 롭다.

POS POLISI

Posted by Ade Nugraha on 10 March 0 comments

POS POLISI
(Sebuah Cerpen)

Sudah dua tahun saya bekerja sebagai petugas kebersihan di ibukota. karena saya lulusan sd sangat sulit sekali untuk mencari pekerjaan. sampai akhirnya nasib saya hingga saat ini mentok di petugas kebersihan. Umur saya 31, orang tua saya sudah meninggal dua-duanya dan kini saya tinggal bersama saudara saya di sebuah gubuk pinggiran Jakarta. 11 tahun yang lalu ayah saya meninggal dan saya masih ingat dengan pesan terakhir beliau, yaitu jangan berurusan dengan polisi.

Setiap pagi pukul lima saya sudah berada di jalanan ibu kota. membersihkan daun daun yang berserakan di pinggir jalan. pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas saya sehari hari. Sesekali saya memandang pos polisi yang berisi 4 orang polisi yang sedang berbincang bincang. Entah mengapa memandang pos polisi tersebut seperti memandang hal baru setiap harinya. 

Teringat ketika saya sedang bersama ayah , ibu dan kaka saya ketika kami pergi untuk menjenguk saudara kami di Subang. waktu itu ayah saya untuk pertama kalinya menyewa mobil Carry dan ayah sendiri yang mengemudikannya. Kami sangat senang sekali untuk pertama kalinya walau dengan duit pas-pasan ayah beserta keluarga kecilnya bisa ke rumah saudaranya. Namun alangkah kagetnya di tengah perjalanan mobil kami distop oleh mobil polisi dan mereka pun melangkah menghampiri ayah tercinta kami. saya yang duduk di belakang mengintip ayah saya dan polisi itu, tangan saya gemetar, kaki saya juga. mata saya berlinang air mata melihat ibu saya teriak histeris. Kakak saya hanya diam saja. dan ayah saya , saya melihat ayah mengeluarkan uang seratus ribunya dari dompet. 

Pekerjaan saya selain membersihkan, juga merapihkan tanam-tanaman yang ada di sekitar jalan. pekerjaan inilah yang saya suka, tanaman tanaman yang dipinggiran jalan sudah saya anggap seperti tanaman sendiri. saya perlakukan seperti tanaman saya di gubuk. Kadang saya bawa gunting taman, kadang juga hanya bawa arit saja. sesuai kebutuhan.

Hari yang cerah pukul 7 pagi. aktifitas ibukota yang gemuruh setadi pagi karena jam kerja sudah mulai kembali. lalu lalang kendaraan sudah tidak asing bagi saya. dan setiap memandang pos polisi itu seperti hal yang baru bagi saya setiap pagi. saya perhatikan dari kejauhan. saya perhatikan tingkah tingkah polisi polisi yang ada di pos itu.

Kembali ke cerita ayah dan ibu, sewaktu kami masih tinggal di desa dan saya masih kecil dihimpit diantara ibu dan ayah saya melajukan sepeda motor. Lalu ada seorang seorang polisi mengejar kami dan menanyakan surat surat stnk dan sim. Ayah saya waktu itu memang tidak punya sim dan percekcokan pun terjadi. Dan saya melihat ayah saya ditampar oleh polisi tersebut. Disaat itulah semenjak masih kecil apabila bertemu dengan polisi badan saya gemetar dan keluar keringat dingin hingga sekarang trauma itu masih tersimpan. 

Gunting taman, ya, sebuah gunting taman yang saya bawa dan perlahan saya mencoba mendekati pos polisi itu. karena tanam-tanaman yang dekat dengan pos polisi tersebut memang tidak pernah saya jamah, karena teman saya yang biasa membantu saya sedang sakit. Jadi untuk kali ini saya memberanikan diri.

Gunting taman ini lumayan besar kurang lebih panjangnya 60cm. Tadi malam gunting taman ini saya asah hingga tajam. dari kejauhan hingga mendekati pos polisi tersebut saya memandang, memandang seperti hal yang baru. Kali ini hanya ada seorang polisi yang sedang merokok, dan saya tidak mengenal namanya. di belakang pos polisi saya perhatikan tanaman saya dan merapihkan daun-daun yang sudah panjang. 

Sudah tajam, gunting taman ini sangat tajam. lalu saya membalikkan arah ke seorang polisi tersebut dan menancapkannya ke leher polisi itu. Darah segar pun berceceran. Sepertinya sekali gerakan saja polisi tersebut langsung tidak berdaya. Tubuhnya berlumuran darah. Lantai pos polisi ini pun penuh dengan darah. Melihat pos polisi ini seperti hal baru bagi saya beserta darah dan tubuh yang tergeletak tak berdaya. Dibelakang saya ada ayah dan ibu saya. mereka hanya menatap pos polisi tersebut, seperti saya dan tangan mereka memegang bahu saya dengan lembut.

"Mas Iman, ... mas" , seseorang memanggil nama saya dari belakang.

Saya pun terbangun dari lamunan dan alangkah kagetnya ternyata orang yang memanggil nama saya tersebut adalah polisi yang tadi ada di depan saya. saya pun melihat namanya Ferry Irawan, seperti nama ayah. Saya sangat kaget beliau tau nama saya.

"Bagaimana bapak bisa tau nama saya?"  saya bertanya heran.
"Saya tau nama mas dari teman mas Wandi yang sering ada disini" Polisi itu menjawab.

Saya lihat gunting taman menempel di salah satu batang tanaman di bawah dan polisi itu dengan menjinjing sebuah plastik menawarkan nasi uduk kepada saya. Lalu kami pun berbincang bincang di pos polisi ini. Gemetar tubuh saya perlahan hilang seiring dengan obrolan hangat kami.

Ade Nugraha 
11 Maret 2015