بسم الله الرحمن الرحيم

以真主的名义,最仁慈,最仁慈 ; सबसे करीम, सबसे रहीम उस अल्लाह के नाम पर ; アッラーの名において、最も優雅で、最も慈悲深い ; 알라의 이름으로, 가장 자비 롭고, 가장 자비 롭다.

CERITAAN - UNGKAPAN HATI (Sebuah cerpen)

Posted by Ade Nugraha on 21 November 0 comments

Terjemahan Cerpen "The Tell - Tale heart" 
Karya 
Edgar Allan Poe

Ceritaan – Ungkapan hati

Benar! Gugup, sangat menakutkan yang saya alami; tapi mengapa yang kau katakan aku gila? Penyakit itu telah masuk ke pikiranku, tidak merusak, tak buat aku dungu. Semua itu adalah perasaan yang amat gawat. Aku dengar semua hal di surga dan di bumi. Aku tau semua tentang neraka. Lalu bagaimana saya bisa marah? Mendengarkan! Dan mengamati dengan jernih, dengan tenang, akan aku ceritakan semua kisahnya.

Sangat tidak mungkin untuk menceritakan pertama kali ide itu muncul, tapi, satu hal, yang menghantui siang malam. Tidak ada objek. Tidak ada cara. Aku cinta lelaki tua itu. Ia tidak pernah menyalahkanku. Ia tidak pernah menganiayaku. Untuk emasnya aku tak ada keinginan. Mungkin matanya! ya, itu dia! Matanya menyerupai burung hering itu. Mata biru yang pucat. Kapanpun terasa masuk ke darahku berlari dingin, dan juga secara bertahap, aku buat pikiranku untuk hidup bersama lelaki tua itu, hal itu melemparkanku pada kehidupan mata hering itu.

Sekarang ini intinya. Kau menghayal aku gila. Lelaki gila tak tau apa-apa. Tapi kau harusnya melihatku. Kau harusnya melihat betapa bijaksananya aku  memulai semua ini —dengan peringatan apa—dengan meninjau masa depan mana, dengan pura-pura yang mana, aku pergi bekerja! Aku tidak pernah mengambil tindakan kepada lelaki tua itu sampai selama seminggu sebelum aku bunuh dia. Dan setiap malam, tengah malam aku buka pintu kamarnya dengan hati-hati! Kemudian, ketika pintu terbuka cukup masuk kepalaku, aku letakan berdekatan dengan lentera yang gelap, dekat sehingga tak ada cahaya keluar, lalu aku masukan kepalaku ke dalam. Oh, kau pasti tertawa melihatku dengan cerdik memasukan kepalaku kedalam! Pelan, sangan pelan, sehingga tak mengganggu lelaki tua itu yang tertidur. Berjam-jam aku lakukan itu, untuk membuat kepalaku seluruhnya masuk sampai aku melihatnya tertidur di ranjang. Ha! Akankah lelaki gila ini mengetahui sat saat seperti ini? Aku baru saja membukanya sehingga sinar tipis mengena pada mata burung hering. Yang ini aku lakukan untuk malam panjang yang ke tujuh, setiap malam setiap tengah malam, tapi mata itu selalu tertutup, hal yang mustahil untuk melakukan sesuatu, untuk itu bukan lelaKi tua yang menyakitiku tapi mata setannya. dan setiap pagi, ketika hari terjatuh, aku pergi ke kamar dan berkata dengan berani kepadanya, memanggil namanya dengan keras, dan menyelidiki bagaimana ia melewati malam. Setiap jam 12 aku lihat dia ketika tidur.

Malam yang ke 8, aku lebih biasakan membuka pintu. Tiap menit bergerak cepat daripada yang dirasakan. Belum pernah sebelumnya malam itu aku merasakan kehadiran dari kekuatanku sendiri, dari kecerdikanku. Aku hampir menang. Berpikir membuka pintu sedikit demi sedikit, dan ia bahkan tidak memimpikan rahasia perbuatanku. Aku tertawa kecil dengan ide ini, dan barang kali ia mendengarku. Sekarang kamu mungkin berpikir aku menggambarkan yang lalu- tapi tidak. Kamarnya gelap. Dan juga saya tahu bahwa ia tidak akan melihat ketika aku membuka pintu dan terus membuka perlahan.

Aku telah masukkan kepalaku, dan membuka lentera, ketika aku memegang tali timah, dan lelaki tua itu terbaring di kasur, teriak, siapa itu?

Aku diam. Diam lama sekali. Saat itu juga aku tak mendengar ia turun dari ranjang. Ia masih berada di ranjang, mendengarkan; yang baru saja aku lakukan tiap malam.

Segera, aku dengar rintihan, dan aku tahu itu adalah rintihan dari sebuah teror. Bukan rintihan rasa sakit atau sedih. Oh, tidak! Suara itu adalah suara tak berdaya yang ku dengar. Aku tahu suara itu. Banyak malam, baru saja, ketika semua tertidur, mengalir didada, sangat dalam, dengan rintihan itu, teror itu menggangguku. Aku tahu betul. Aku tahu yang dirasakan oleh lelaki tua itu, aku kasihan padanya walau hatiku mengeluh. Aku tahu bahwa ia sudah pernah berbohong sejak ketika pertama kali gaduh saat beranjak dari tempat tidur. Ketakutannya sedang tumbuh. Ia mencoba berhayal tanpa sebab, tapi gagal. Ia berkata pada dirinya “ Itu adalah tak lain hanya asap dari cerobong, itu hanya tikus yang berjalan di tembok”.  

Ketika aku telah menunggu lama waktu dengan sabar tanpa tatap muka dia berbaring, aku memecahkan untuk membuka suatu sedikit-- seluruhnya, sangat kecil celah di dalam lentera itu. Maka saya membuka itu-- kamu tidak bisa membayangkan bagaimana pelannya, diam-diam-- sampai sinar suram tunggal seperti benang laba-laba memancar dari celah dan menyerang mata burung manyar itu.

Terbuka, lebar, terbuka lebar-lebar, dan aku bergerak sangat hebat dan menatap di atas nya. Aku lihat ia dengan jelas sempurna-- semua luka yang biru tumpul dengan dengan selubung yang mengerikan di atas itu kedinginan itu seluruh sumsum di dalam tulang ku, tetapi aku bisa lihat tidak ada yang lain untuk orang atau wajah yang tua, karena aku telah mengarahkan sinar itu seolah-olah oleh naluri yang dengan tepat ketika noda yang terkutuk itu.

Dan sekarang aku menceritakan kepada kamu bahwa apa yang kamu salah kira untuk kegilaan ini tidak lain dari over-acuteness pikiran sehat? sekarang, aku katakan, disana datang kepada telinga ku adalah suatu bunyi; serasi cepat yang tumpul, seperti suatu penantian membuat ketika kapas dibungkus. Aku mengetahui bahwa bunyi; serasi yang baik juga. Itu adalah pukulan jantung yang tua. Itu meningkat amukan ku ketika pukulan suatu drum merangsang prajurit itu ke dalam keberanian.

Jika kamu masih berpikir saya gila, kamu tak akan berpikir lama ketika saya menggambarkan tindakan pencegahan di dalam persembunyian. malam semakin larut, dan aku harus cepat, tetap pelan.

Aku ambil 3 papan dari lantai kamar, dan menyimpannya diantara balok-balok. Lalu meletakkan kembali dengan rapi, sehingga tak ada orang yang dapat mengetahuinya. Tak ada sisa noda darah sedikitpun. Aku sangat hati-hati.

Ketika semuanya akan berakhir, jam 4 pagi, masih gelap. Ketika bel jam berdeting, ada seseorang yang datang. Aku turun dengan hati yang cerah., tak ada ketakutan? 3 pria, memperkenalkan diri dengan sopan, polisi. Tetangga mendengar jeritan malam tadi. Kecurigaan telah terjadi. Dan mereka pun ditugaskan untuk kesini.

Aku tersenyum, tak ada rasa takut? Aku tawarkan mereka masuk. Teriakan, aku berkata, itu suara ku ketika bermimpi. Lelaki tua, aku jelaskan, pergi ke daerah. Aku tawarkan mereka menggeledah rumah. Aku ajak mereka ke kamar lelaki tua itu. Aku tunjukkan miliknya, aman, tak ada yang rusak. Lalu aku bawakan mereka kursi untuk duduk istirahat, dan aku, dengan berani aku duduk di tempat papan bernoda tadi.

Caraku telah meyakinkan mereka dan mereka puas. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan dan aku jawab riang. Tapi, tak lama kemudian mukaku pucat karena ingin segera mereka pergi. Kepalaku sakit, dan berkhayal bunyi dering ditelingaku. Mereka tetap duduk dan berbincang. Bunyi dering itu makin jelas. Aku mencoba berkata lebih bebas. Tapi hal itu terus berulang pasti. Sampai, suara itu aku rasa tak ada di telingaku.

Sekarang aku sangat pucat. Tapi aku berkata lebih fasih, dan dengan suara yang meninggi. Apa yang harus aku lakukan? Aku menghembus, dan sebelum polisi mendengarnya. Aku berkata lebih cepat, lebih bernafsu namun tetap dengan suara bersahabat.