بسم الله الرحمن الرحيم

以真主的名义,最仁慈,最仁慈 ; सबसे करीम, सबसे रहीम उस अल्लाह के नाम पर ; アッラーの名において、最も優雅で、最も慈悲深い ; 알라의 이름으로, 가장 자비 롭고, 가장 자비 롭다.

RESENSI NOVEL SULUK MALANG SUNGSANG

Posted by Ade Nugraha on 14 November 0 comments

Novel terakhir jilid ke-7 karya Agus Sunyoto ini merupakan jilid terakhir dan diterbitkan oleh Pustaka Sastra (Kelompok penerbit LKiS) dengan judul Suluk Malang Sungsang “Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar”, sebanyak 658 halaman, 12 x 18 cm.  

Mengisahkan bagaimana perjalanan ruhani Suluk Malang Sungsang atau lebih dikenal Syeikh Siti Jenar ini mencapai perjalanan ruhani ke tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu Al fard (Yang Maha Sendiri). Juga mengisahkan kesimpang siuran Syeh Siti Jenar dibunuh oleh Dewan Walisongo di Mesjid Demak tidaklah benar. Tokoh yang mengaku ngaku sebagai Syekh Siti Jenarlah yang menyebarkan ajaran sesat itu yang dibunuh.

Dalam bab bab pertengahan dijelaskan perlambang perlambang Nafs Nafs yang ada pada diri manusia. Serta bagaimana Nafs nafs ini satu persatu memperlihatkan wujudnya kepada Syaikh Siti Jenar, seperti ular belang (kuning, hitam, putih, merah) yaitu perlambang nafs Al-Hayawaniyyah anasir tanah bersifat zhulmun, yang berarti permata khayalan yang menyesatkan. Anjing berbulu hitam kemerahan, perlambang nafs Al-Ammarah, perlambang api yang selalu naik tegak lurus yang cenderung kepada perbuatan jahat, pamrih, ingin dipuji, nikmat badan dan ruhani. Anjing berbulu putih kekuningan dengan belang hitam kemerahan yaitu perlambang nafs Al-Lawwamah cenderung dengan rasa bangga , merasa paling benar, merasa paling hebat dan suka mencela orang lain. Dan seterusnya hingga perlambang ke-8, bayangan burung anqa yang tipis yang diliputi cahaya terang kebiruan perlambang nafs Al Kamilah.

Dalam novel ini juga menceritakan bagaimana kenyataan pahit penduduk Kozhikode, yang dikecam kegelisahan akibat tindakan tindakan orang Portugis yang ganas. Kemenangan peperangan Portugis di Kozhikode, berdampak buruk juga ke tanah Jawa. Dimana pengungsi pengungsi berdatangan ke tanah Jawa dan memberikan kebiasaan keyakinan yang menyimpang.


Percakapan orang Kaya Kenayan dengan Syekh Abdul Jalil tentang suatu negeri yang dikuasai oleh negeri lain dalam novel ini, sebagai berikut :

“Apa yang harus dilakukan oleh kaum muslim beriman, o tuan Syaikh, jika kapal yang mereka tumpangi tidak dapat dipertahankan?’ tanya Orang Kaya Kenayan.

“Ketidak mampuan mempertahankan kapal mesti dialami lebih dulu oleh para penumpang yang bertugas melawan musuh dengan kekuatan senjata. Jika itu yang terjadi maka menjadi tugas para pelindung penumpang, penjaga ruang kemudi, penjaga keutuhan kapal, dan penyusup untuk mengambil langkah bijaksana sesuai tugas masing-masing. Artinya, demi keselamatan kapal dan seluruh penumpang, dengan lapang dada dan penuh kepasrahan mereka harus mengembalikan segala urusan kepada yang Mahakuasa (al-Muqtadir).

“Membiarkan pihak musuh menguasai kapal?’ tanya Orang Kaya Kenayan.

“Kalau terpaksa, kenapa tidak?” sahut Abdul Jalil datar. “Sebab, masalah utama dalam peristiwa semacam itu bukanlah kemenangan dalam menguasai kapal, melainkan sejauh mana para penumpang kapal di bawah kekuasaan musuh tetap dapat hidup dalam keyakinannya dan bisa setia melayani Sang Maharajadiraja semesta (al-Malik al-Mulki). Apalah arti kemenangan kuasa duniawi atas sebuah kapal jika para penumpang mengabaikan dan enggan melayani-Nya? Justru pada saat dikuasai musuh itulah para penumpang kapal harus mengukuhkan kembali persaksian Tauhid kepada Sang Maharajadiraja semesta; Rabb manusia, Maharajadiraja manusia, Sesembahan manusia, dengan menafikan keraguan yang diakibatkan oleh bisikan maya golongan jin dan manusia (QS. An-Nas: 1-6). Ya, bisikan meragukan dari golongan jin dan manusia tentang kehormatan, kepahlawanan, kesyahidan, kebangsawanan, kebebasan, kekuasaan, kepentingan golongan dan keluarga harus dinafikan semua. Sebab, semua itu bersifat maya. Saat itu, hati dan pikiran harus dikiblatkan untuk menyucikan dan memuliakan-Nya. Kesampingkan segala sesuatu selain Dia.”

Apakah itu berarti para penumpang kapal menyerah total kepada musuh dan menjadi budak mereka?”
“Justru dibawah kekuasaan musuh itulah para penumpang kapal memulai perjuangan yang sesungguhnya dalam menegakkan Tauhid Mulukiyyah, “ kata Abdul Jalil.

“ Kami belum paham dengan penjelasan Tuan Syaikh tentang Tauhid Mulukiyyah.”

“Camkan dalam kesadaran kalian, o Anak-anakku! Sesungguhnya, jatuh dan bangunnya suatu bangsa tergantung seutuhnya pada kehendak Sang Maharajadiraja semesta; Dia, Maharajdiraja Yang Hakiki (al-Malik al-Haqq al-Mubin), yang Maha Mengangkat (ar-Rafi’), Yang Memberi Kemuliaan (al-Mu’iz), Yang Memberi Keamanan (al-Mu’min), Yang Memberi Kedamaian (as-Salam). Tetapi, Dia juga Maharajadiraja Penguasa alam jasadi, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Yang Maha Menjatuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Mencabut (al-Qabidh), Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), dan Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim). Itu berarti, bangsa-bangsa yang dihinakan di bawah kaki musuh hendaknya mawas diri. Ya, mawas diri, apakah mereka selama itu  sudah benar dalam melayani Sang Maharajadiraja semesta? Sebab, telah tertulis pada lembaran Kitab Suci dan sejarah bangsa-bangsa bahwa kejatuhan suatu bangsa ke dalam kekuasaan bangsa lain lebih banyak disebabkan oleh kenyataan bahwa bangsa bersangkutan telah mengabaikan Sang Maharajadiraja semesta dengan membuat sesembahan (thaghut) lain yang hina dan nista.”

“Sesungguhnya, Sang Maharajadiraja semesta adalah Penguasa semesta ciptaan. Dia menolak disekutukan. Dia ingin dijadikan satu-satu Nya kiblat Sesembahan dan Gantungan harapan umat-Nya. Dia Maha Pencemburu dengan sekutu-sekutu. Itu sebabnya, tugas utama para pemimpin kaum muslim beriman di sebuah kapal adalah menciptakan keadaan dimana seluruh penumpang kapal menjadi orang-orang yang bertakwa; yang memuliakan keagungan-Nya sebagai Rabb, Maharajadiraja dan Sesembahan seluruh makhluk. Semua penumpang wajib menjadikan-Nya sebagai Pelabuhan harapan dan Kiblat Tujuan. Para pemimpin kaum muslimin yang beriman dan bertakwa tidak boleh membiarkan para penumpang kapal berlebihan dalam mengumbar kesenangan nafsu; pesta pora menyantap makanan lezat, menenggak khamr sampai mabuk, menari-nari, menyanyi-nyanyi, menikmati kesyahwatan tanpa kendali hingga melanggar aturan yang ditetapkan Sang Maharajadiraja semesta. Demikianlah hukum kauniyah yang menetapkan syarat-syarat agar kapal yang ditumpangi suatu kaum tidak dirampas dan dikuasai musuh,” papar Abdul Jalil.

“Apakah mungkin negeri kami nanti jatuh di bawah kaki orang-orang kafir Portugis?’ tanya Orang Kaya Kenayan sambil menarik nafas berat dan kemudian menghembuskannya keras-keras.

“Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini,” sahut Abdul Jalil dingin,”Tetapi, semua kemungkinan itu tergantung pada ketakwaan orang-orang di suatu negeri.”

“Maksud Tuan Syekh?”

“Apakah penduduk negeri Pasai selama ini sudah melayani Sang Maharajadiraja semesta dengan setia? Apakah mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesembahan lain? Apakah mereka tidak disibukkan oleh urusan-urusan remeh pemenuhan hasrat nafsu mereka sendiri? Apakah para pejabat negeri ini terdiri atas orang-orang yang setia melayani Sang Maharajadiraja semesta? Apakah rakyat negeri ini setia menjadi hamba-Nya? Apakah penduduk negeri ini hidup di bawah pancaran cahaya akhlak yang mulia sebagaimana diteladankan rasul-Nya? Jawabannya, tergantung kejujuran negeri ini sendiri dalam menangkap makna-makna di balik segala sesuatu yang kelihatan di negeri ini. Apakah yang sejatinya terjadi di negeri ini?”


“Lantaran itu , o Anak-anakku, lewatilah jalan-jalan di negeri ini! Lihatlah dengan seksama kehidupan penduduknya! Periksalah, apakah kalian menemukan orang-orang yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran? Jika kalian tidak mendapati cukup banyak penduduk negeri ini yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran, itu pertanda Sang Maharajadiraja semesta sedang dicekam kemurkaan. Itu berarti, jika waktu yang ditentukan-Nya telah sampai, pasti Dia akan mengirimkan siksaan dan hinaan kepada penduduk yang tidak mencitrakan Keadilan dan Kebenaran sebagai wakil-Nya di muka bumi. Dia akan mengirimkan harimau, singa, srigala, musang, dan hewan melata dari hutan, dari padang belantara, gunung, rawa-rawa, danau, dan lautan untuk merobek-robek negeri ini dalam kekacauan. Darah akan tumpah dimana-mana. Kemudian, dengan cambukan pecut-Nya yang dahsyat Dia akan mendera penduduk dengan kesengsaraan dan penderitaan. Dia akan mengirim perampok yang merampok, penggarong yang menggarong, pencuri yang mencuri, pemerkosa yang memperkosa, penyiksa yang menyiksa, dan pembunuh yang haus darah. Dia akan menekuk lutut penduduk negeri yang ingkar untuk direndahkan sebagai budak bagi bangsa lain. Demikianlah hukuman yang pantas bagi penduduk suatu negeri yang menyekutukan Sang Maharajadiraja semesta.”